Sejarah

Sejarah Desa Boloh
Pada dasarnya tidak ada sumber primer yang menjelaskan sejarah awal keberadaan Desa Boloh, baik prasasti maupun dokumen tertulis. Sejarah Desa Boloh hanya dipahami dari cerita lisan yang disampaikan dari generasi ke generasi. Berikut hasil rangkuman dari berbagai sumber yang berhasil dihimpun oleh tim.

Pada jaman dahulu Desa Boloh berupa hutan, suatu ketika datang lima orang laki-laki yang mana mereka merupakan murid dari Sunan Kalijogo dari Demak Bintoro. Yang mana kepergian mereka dikarenakan petunjuk dari Sunan Kalijogo untuk berdakwah di daerah selatan. Mereka berjalan dari bagian barat, yang sekarang jalan raya Purwodadi Solo menuju daerah hutan yaitu Genengsari, mereka tinggal beberapa bulan di sana kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju ketimur, dan satu diantaranya bernama Ki Ronggo kemudian bertempat tinggal didaerah itu yaitu daerah Coyo.

Keempat orang tersebut berjalan kaki dari sebelah timur menuju barat laut, Keempat orang lainnya itu yang paling tua bernama Ronggo Waseso atau yang terkenal dengan sebutan Ronggo Wiso, yang kedua bernama Ronggo Kusumo atau yang lebih terkenal dengan Syech Ngalim menetap di bagian tengah. Yang ketiga bernama Ronggo Sejati yang terkenal Ronggo Sekti atau Mbah Canggah menetap di daerah ujung barat daya sedangkan terakhir bernama Ronggo Pakso yang terkenal dengan nama Mbah Santri.

Sesampainya didaerah yang ada dua orang saling berbantah bantahan dan sudah dilerai masih saja berbantah bantahan atau yang dalam bahasa jawanya kurang ajare gak leren leren, maka Ronggo Waseso berkata,

“Karena kurang ajarnya gak berhenti, maka kelak ramai-ramainya jaman maka daerah ini saya namai Pejaren.”

Sejak saat itulah Mbah Ronggo Waseso bertempat tinggal di daerah Pejaren, sampai meninggalnya dimakamkan di Tanah Kubur Singkil. Akhirnya menjadi Desa Pejaren tetapi kemudian menjadi Dusun lagi dengan menginduk pada Desa Boloh.

Ketiga orang berikutnya kemudian berjalan keselatan, dan bertemu dengan seorang yang sangat bagus rupanya, tingkah lakunya juga baik begitu ditanyai oleh Mbah Ronggo Kusumo orang tersebut mau menjadi Bolo atau Kawan dari Mbah Ronggo Kusumo.

Kemudian Mbah Ronggo Kusumo berkata,”bila kelak ramai ramainya jaman tempat ini akan saya namai Bolo.”

Sejak saat itulah Mbah Ronggo Kusumo bertempat tinggal di Boloh sampai meninggal dimakamkan di Makam Gedong. Akhirnya Boloh menjelma menjadi suatu Desa yang tanahnya sangat subur atau loh.

Tinggallah dua orang yang tersisa berjalan keselatan lagi. Sampai di daerah yang agak tinggi datarannya mereka bertemu dengan seorang petani yang sangat tua, Mbah Ronggo Sejati dan Mbah Ronggo Pakso kemudian berkata pada petani tersebut,

” Mbah, apa bapak punya sedikit makanan untuk kami?”, kemudian pak tani tersebut menjawab,
” kebetulan saya ada kelebihan jagung sedikit,” terus Mbah Ronggo Sejati berkata lagi “boleh saya menginap di sini?” Pak Tani menjawab lagi, “ kebetulan ada sedikit lebih tempat untuk tuan tuan.”
Mbah Ronggo Sejati kemudian berkata lagi,” karena tempat ini selalu punya kelebihan maka kelak ramai ramainya jaman tempat ini saya namakan Kaluwan.”

Kemudian Mbah Ronggo Sejati berjalan sendirian kearah barat, dan di sana Mbah Ronggo istirahat sebentar di bawah Pohon Sambi, dan secara tidak sengaja tangan Mbah Ronggo Sejati menggaruk garuk tanah,dilihat dengan seksama oleh Mbah Ronggo Sejati tanah tersebut sangat baik untuk pembuatan Bata.
Maka Mbah Ronggo Sejati berkata,” Bila kelak suatu jaman tempat ini ramai, maka saya namai Mboto.”
Kemudian Mbah Ronggo Sejati bertempat tinggal di daerah Mboto yang terkenal dengan sebutan Mbah Canggah. sampai meninggalnya dan dimakamkan di Mboto. Sampai saat ini kampung Mboto menjadi satu dengan Dusun Kaluwan.

Setelah tinggal seorang maka Mbah Santri lalu berjalan menuju selatan dan kemudian bertemu dengan sungai kecil dimana sungai tersbut airnya sangat jernih dan bunyinya Kropyak kropyak, selalu dobel atau kayun maka berkata Mbah Santri bahwa nanti ramai ramainya jaman tempat tersebut dinamakan Kayen dan yang menjaga sungai tersebut dinamakan Mbah Krapyak. Sampai saat ini tempat tersebut menjadi Dusun Kayen. Mbah Santri atau Mbah Ronggo Pekso kemudian tinggal dan wafat dimakamkan di dusun tersebut, tepatnya dibelakang SD Boloh IV.

Dilain tempat, sebelah timurnya Dusun Kayen ada seorang punggawa ( Demang Coyudho ) dari daerah Demak Bintoro yang di utus oleh Sang Adipati untuk menyusul keempat ronggo tadi, tetapi belum sempat bertemu dengan keempat ronggo tadi Demang tersebut kehabisan bekal baik bekal air dan makanan. Kemudian Demang tersebut mencari sumber mata air untuk keperluan minum dan mencuci dan bersuci, tetapi sampai lelah hanya bertemu dengan sumber air yang kecil,itupun rasanya asin, karena cara mencari airnya susah atau dalam bahasa jawanya “nak ra mubeng seser ora uman” maka berkata Sang Demang, kelak ramai ramainya jaman tempat tersebut dinamakan Serman. sekarang tempat tersebut di namakan Dusun Tlogomulyo yang terletak di sebelah timur Dusun Kayen. Kemudian Mbah Demang tersebut tinggal sampai wafatnya dimakamkan di Kubur Tlogomulyo.

Adapun tahun berdirinya Desa Boloh masih terjadi simpang siur, namun sebelum tahun 1800 Dusun Nglobar dan Dusun Nambuhan Kecamatan Purwodadi juga ikut Desa Boloh, tetapi di tukar oleh lurah jaman dulu, Hal ini dilakukan karena dusun tersebut letaknya jauh dari Desa Boloh.