Menjaga Tradisi Lumbung Padi Tetap Terisi

Boloh- LPMD. Sesuai visi dan misi dari Pemerintah Desa Boloh yang tertuang dalam RPJMDes 2014- 2019 yaitu “TERWUJUDNYA PEMERINTAH DESA YANG TRANSPARAN, ADIL DAN MERATA DALAM PEMBANGUNAN SERTA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT MELALUI POTENSI LOKAL” maka Lumbung Padi adalah salah satu cara untuk mewujudkan Visi tersebut. Pada hari Kamis tanggal 3 Juli 2019 warga Desa Boloh berbondong- bondong menyimpan gabah dan mengembalikan pinjaman gabah di Lumbung Desa Boloh, yang berada di komplek Balai Desa Boloh. sampai berita ini diturunkan sudah ada 2 ton lebih gabah yang masuk di Lumbung Desa.

Ketua Lumbung Desa Suwardjo mengatakan bahwa penyimpanan dan peminjaman dilakukan setelah panen padi musim tanam II dan dipinjamkan kembali sebelum musim tanam padi ke I atau saat tanaman kedelai mulai menguning. Lumbung Desa Boloh ada 2 buah, yang pertama di lokasi balai desa sedangkan yang ke dua di lokasi TK Darma Wanita 1 Boloh.

Camat Toroh Drs Muhamad Arifin dalam sambutannya saat berkunjung ke Desa Boloh beberapa waktu yang lalu mengatakan perlunya menghidupkan kembali Lumbung Desa dengan cara di wadahi dalam lembaga BUMDes.

Memang keberadaan Lumbung Desa sangat membantu bagi warga desa, terutama bagi warga kurang mampu dan buruh tani, di lihat dari daftar peminjam kebanyakan mereka meminjam sebesar 1 kuintal s/d 2 kuintal. Menurut Bandini yang menjadi nasabah lumbung alasannya meminjam gabah lumbung “karena saya tidak punya panenan, gabah e apik  serta bunga kecil”.

Bagi orang desa keberadaan lumbung sejalan dengan   gending “Lumbung Desa” karya Ki Narto Sabdo, Ini adalah penggalan lirik lagu tersebut;

“Lumbung desa pra tani padha makarya
Ayo dhi, njupuk pari nata lesung nyandhak alu
Ayo yu, padha nutu yen wis rampung nuli adang
Ayo kang, dha tumandang yen wus mateng nuli madhang “

Arti Lirik Lagu Tembang dalam Bahasa Indonesia:
lumbung desa para petani berkarya
ayo dhi, mengambil padi ditata dalam lesung dan memegang alu
Ayo yu, pada nutu bila sudah selesai lalu dimasak
ayo kang, kerjakanlah, ketika sudah matang lalu di makan.

Makna yang terkandung bait pertama, dimana mencerminkan suatu keadaan desa yang mayoritas penduduknya adalah para petani dan disitu para petani pada berkarya, selanjutnya pada bait kedua, pada kata “ayo dhi” merupakan kalimat perintah yang mengajak para petani tersebut itu mengambil hasil karyanya yang berupa padi lalu ditata dalam tempat penumbukan yang bernama lesung yang kemudian ditumbuk dengan menggunakan alu.

Pada bait yang ketiga terdapat kalimat perintah yang mengajak kembali para petani perempuan bila sudah menyelesaikan penumbukanya kemudian di masak. Kenapa disini di tekankan pada para petani perempuan? Penekanan terhadap petani perempuan terdapat pada kata “ayo yu”.
Dan kata “yu” merupakan kata panggilan yang familiar terhadap wanita jawa.
Pada bait yang terakhir kembali terdapat kata perintah ajakan, akan tetapi ini ditekankan pada kaum laki-laki. Hal ini ditekankan pada kalimat “ayo kang” yang merupakan sapaan yang fameliar juga terhadap kaum laki-laki jawa.

Di lanjutkan lagi pada kalimat berikutnya yang terdapat pada bait yang terakhir “do tumandang yen wes mateng nuli madhang” yaitu mengajak para kaum pria untuk bekerja, lalu dengan hasil kerjanya dipergunakan untuk makan.\

Pada lagu dolanan di atas hanya memberikan suatu contoh akan segala sesuatu yang membutuhkan proses. Hal ini mencerminkan suatu hal yang ada di dunia itu membutuhkan proses yang tidah mudah dan tidak gampang. (ani)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *